Jumat, 22 Oktober 2010

the story of a continuation of part one!!

the story of a continuation of part one, here is the story of the other super junior ..tapi ini lebih ke kyuhyun,siwon and donghae !!!


Kyuhyun berjalan beriringan dengan Siwon menyusuri jalanan kota Seoul. Siwon menyapu seluruh tepian jalan. begitu juga dengan Kyuhyun. Beberapa orang memandang mereka tampak takjub.
“Apa itu Tuan Muda Siwon? Lalu siapa laki-laki tampan di sampingnya?”
“molla. Wajah mereka mirip..”
“mwo? Jangan-jangan laki-laki itu Pangeran Kyuhyun? Adik Tuan Muda Siwon. Kau ingat?”
“ne.. ingat..”
Siwon mendesah. Kyuhyun menyenggol pundak Siwon pelan, “jangan hiraukan. Ingat tujuan kita..”
Siwon mengangguk.
Tak lama kemudian, Siwon menyadari sesuatu. Ia menepuk Kyuhyun.Kyuhyun menoleh.
“lihaat.. apa itu adik kita?” Siwon menunjuk seorang gadis berjalan dengan wajah tertekuk.
“bagaimana bisa kita mengetahui dia benar-benar adik kita? Sedangkan mungkin saja gadis itu tidak mengetahui siapa kita..” ujar Kyuhyun.
“kita dekati saja dulu,” Siwon berjalan cepat menuju gadis itu.
Sarang kaget melihat dua pria tinggi berwajah supertampan berdiri di dekatnya. Lebih tepatnya, menghalangi jalannya. Sarang sudah antisipasi.
“mau apa kaliaaan?~~”
Siwon merangsak maju. Meraih tubuh Sarang dalam dekapannya. Badan Siwon yg tinggi besar itu seolah memeluk boneka mungil. Sarang meraung-raung. Ia memukul-mukul dada Siwon dengan kepalan tangannya.
“ANDWAE~~! Siapa kaliaaan~~!!” teriak Sarang. Siwon melepas pelukannya. sarang menatapnya tajam.
Kali ini Kyuhyun maju beberapa langkah. Sarang memandang Kyuhyun sedikit panik. Kyuhyun menggenggam pergelangan tangan Sarang.
“Sarang ? kau ingat kami ?” tanya Kyuhyun dg intonasi lembut dan suara yg lirih.
Sarang mengernyitkan alis.
“molla. Sudah pergi sana!” perintah Sarang sebal.
Kyuhyun masih menggenggam tangan Sarang, “ini aku, Kyuhyun. Dan dia Siwon. Kita keluarga..”
Sarang menghentak tangan Kyuhyun hingga pergelangannya bebas, “Keluarga? Jangan ngaku-ngaku deh! aku gak pernah punya keluarga kayak kalian~~!”
Sarang mendengus lalu meninggalkan Kyuhyun dan Siwon yg masih berdiri.
Siwon memandang Kyuhyun sedih dan kecewa. “Dia tidak ingat sama sekali…”
Kyuhyun tersenyum, “tenanglah Hyung. Semuanya pasti baik-baik saja..”
Siwon mendesah, “kenapa bisa kau seyakin itu?”
Kyuhyun menatap langit, “karena bagaimana pun juga, seorang adik pasti mengenali kakaknya…”
Siwon menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kemudian ponselnya berbunyi.
Pesan dari Sun Young :
[ hei tuan muda siwon . meeting berhasil . kontrak sudah ditanda tangani mr.will . kau akan menjemputku atau tidak ? kalo tidak aku akan pulang besok pagi ]
Siwon mengetik pesan balasan :
[ jangan pulang sendiri . aku akan menjemputmu . kamsahamnida utk hari ini . kiss bye for u . hati2 di jeju. Tunggu aku. ]
Siwon memasukkan ponselnya. Ia berpaling pada Kyuhyun.
“kyu, gadis yg dipantai waktu itu siapa?”
Kyuhyun menoleh, “jaerin.”
Siwon memukul kepala Kyuhyun pelan, “bukan namanya, bodoh. maksudku, dia siapamu? Pacar, tunangan, istri?”
Kyuhyun mengangkat bahu, “bisa dibilang ketiganya.”
Siwon ternganga, “maksudmu?”
Kyuhyun tersenyum, “statusnya sih pacarku. Tapi dia sering menginap di apartemenku seperti tunanganku. Dan dia juga merawatku seolah-olah dia istriku.”
Siwon tertawa, “hahaahha… kyu kecil ternyata sudah besar..”
Kyuhyun tertawa juga, “bagaimana dengan Sun Young. Dia itu temanmu dari kecil kan?”
Siwon mengangguk, “ne. memang benar. maka itu aku tidak berani mengatakan apapun padanya.”
Kyuhyun mengernyitkan alis. “tidak berani? Waeyo? Dia menggigit?”
Siwon menepuk punggung Kyuhyun, “kau pikir dia anjing, bisa menggigit? Sudah, sudah, sekarang kita akan kemana?”
Kyuhyun terkikik, “tidak ada anjing secantik dia, Hyung. Kau kembali saja ke pulau jeju. Jemput dia.”
“Lalu kau?” tanya Siwon.
“aku masih rindu Seoul.” Ucap Kyuhyun.
Siwon mengangguk mengerti. “baiklah. Hei, jangan lupa hubungi Jaerin. Dia pasti mencemaskanmu.”
Kyuhyun mengedipkan matanya tanda iya. Siwon pun melenggang kembali ke Jeju island.
= Singapore =
Jaerin menghela napas. Lalu membenamkan wajahnya dalam bantal. Tangannya menggenggam ponsel.
“keure.. akan kuakhiri sampai di sini saja, Kyu…” gumam Jaerin lalu mencari kontak Kyuhyun.
Belum sempat ia menekan tombol panggil, ponselnya berbunyi.
“Yeoboseyo?” sapa Jaerin.
“Annyeong, Jaerin..” sapa Kyuhyun dg suara seperti biasanya.
“ne. ada apa menelpon?”
Terdengar suara hela napas Kyuhyun. “beogeushipta.”
Jaerin, “masih mengingatku?”
Kyuhyun tampak kaget, “bagaimana bisa aku tidak mengingatmu?”
Jaerin, “lalu mengapa harus menunggu tiga hari baru menelepon?”
“Jaerin-ah.. kau harus tau posisiku, Jagiya. Aku dan Hyung sedang mencari adikku. Bukankah kau sudah tau, mengenai adikku?” tanya Kyuhyun.
“Ne. tapi aku gak sanggup kalau hubungan jarak jauh seperti ini.” kata Jaerin.
“hubungan jarak jauh? Kita tidak sedang melakukan hubungan itu kan?” Kyuhyun mengelak.
“kita sedang menjalaninya sekarang, Kyu.” Jelas Jaerin.
“Jaerin-ah.. aku akan kembali ke Singapore secepatnya. Sampai aku menemukan adikku dan membawanya kembali ke rumah. Kau bisa menunggu kan?” tanya Kyuhyun.
Terdengar isakan Jaerin. Kyuhyun menelan ludah.
“kau tau, aku di sini merindukanmu. tapi kau tidak menelpon. Aku ingin memelukmu, tapi kau tidak di sampingku. Kyuhyun, aku punya batasan kesabaran…”
Kyuhyun menghela napas, “apa kau benar2 tidak bisa menungguku sedikit lagi? aku janji aku akan segera kembali untukmu..”
Jaerin mendesah. “entahlah, Kyu.. aku tidak kuat jika harus menunggumu sedangkan kita sama-sama tidak tahu apa yg akan terjadi besok..”
“apa kau tidak percaya padaku, Jaerin ? apa kau pikir aku bisa dg santainya mencari adikku sedangkan aku tidak bersamamu? Apa kau pikir aku tidak merindukanmu?” tanya Kyuhyun.
“lalu kapan kau akan kembali?” tanya Jaerin.
“molla. Secepatnya.” Jawab Kyuhyun.
Jaerin menghela napas mendengar jawaban Kyuhyun, “kau bahkan tidak bisa memberiku kepastian.”
Kyuhyun bingung. “lalu harus bagaimana?”
“mollayo. Ya sudah, disana pasti sudah petang. Beristirahatlah, jangan lupa makan. Saranghae..” klik. Jaerin menutup telepon sebelum Kyuhyun sempat membalas.
Kyuhyun mengusap wajahnya bimbang.
—-
Donghae berlari kencang begitu ia menerima informasi bahwa Lee Hara pingsan dan sedang berasa di UGD. Tanpa berpamitan pada siapapun, Donghae langsung menuju rumah sakit.
Donghae mendorong pintu UGD. Lalu menanyai suster yg lalu lalang.
“sus, pasien pingsan Lee hara dimana ya?”
Suster itu menunjuk tirai paling kanan. Donghae berterimakasih lalu menuju tirai tersebut.
Dilihatnya sosok gadis berwajah pucat terbaring lemah dengan wajah pucat diatas ranjang dorong UGD.
“Lee Hara? Hei, dia kenapa?” tanya Donghae pada gadis yg berdiri di samping kanan ranjang Lee Hara.
“molla. Dia pingsan begitu saja. Sepertinya ia sudah sakit selama beberapa hari terakhir. lalu kau bagaimana sebagai tunangannya?” tanya gadis itu.
“sudah sakit sejak awal rupanya. Mianhae, aku belum bertunangan dengan dia.” Ralat Donghae.
Gadis itu mencibir, “apa? Jadi kau bukan tunangannya ya? Setiap saat Lee Hara bercerita tentangmu dan keluargamu. Ternyata bukan ya?”
Donghae mengangguk. “terimakasih sudah membawa Lee Hara ke rumah sakit.” Ia membungkukkan badan 90derajat.
“gwaenchana. Rawat dia, beberapa hari yg lalu ia mengatakan sudah akan menikah dgmu. Tapi dua hari terakhir dia murung. Aku tidak tau kenapa. Tapi sakitnya pasti ada hubungannya dengan pernikahan atau hubungan kalian.” tambah gadis itu lagi.
“ne. mianhae sudah merepotkan. Aku akan mejaganya. Kamsahamnida..” ucap Donghae sedikit kaget mendengar ucapan terakhir gadis itu.
“yasudah. Aku pulang dulu. dah,” gadis itu meninggalkan Donghae.
Donghae memandang Lee Hara cemas. Meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
Tak lama kemudian, Lee Hara sadar.
Donghae menatap Lee Hara sedikit lega, “kau baik-baik saja ?”
Lee Hara tersenyum, “Donghae-ah? Kenapa kau ada disini?”
Donghae memukul kepala LeeHara pelan, “pabo. Kau pingsan, temanmu yg memberitauku. Kau kenapa? Sakit?”
Leehara menggeleng, “ani. Hanya kecapekan..”
Donghae menghela napas, “kenapa tidak jujur saja padaku? Kenapa tidak bilang kalau kau ingin menikah?”
Leehara menatap Donghae, “bukankah waktu itu aku sudah mengatakannya?”
“tidak. Waktu itu kau hanya bertanya kenapa aku tidak segera melamarmu. Kalau saja kau mengatakan kau ingin menikah, aku pasti melamarmu. Tidak perlu sampai sakit seperti ini..”
Leehara mengangkat bahu, “molla. Kupikir kau sudah tau maksud implisitku.”
Donghae mengelus kepala Leehara lembut, “apa karena aku menolak melamarmu secepatnya yg membuatmu jatuh sakit?”
Leehara mengangguk. Donghae tersenyum, “kenapa?”
Leehara menunduk malu, “aku bosan kalau terus-terusan memanggilmu Donghae. Aku ingin memanggilmu suamiku..”
Donghae tertawa, “baiklaah. Panggil aku sesuka hatimu.”
Leehara menggeleng, “ani ani ani. Aku juga ingin punya anak darimu.. aku ingin menjagamu 24 jam.. aku ingin…”
Belum selesai Leehara meneruskan kalimatnya, Donghae sudah menghentikannya. Bibir lembut Donghae sudah menembus bibir pucat Leehara. Leehara terkejut pada awalnya.
“ne, kita akan segera menikah.” Ucap Donghae. Leehara memeluk Donghae erat. “saranghae..”
—-
Apartemen sepi. Donghae Heechul Ryeowook tidak ada dirumah. Sarang benar-benar sendirian. Sarang selonjoran di depan tivi menonton acara yg sama sekali tidak jelas.
Tok-tok-tok.
Sarang menoleh. Beranjak lalu membukakan pintu. Emosinya meluap lagi begitu melihat sosok aneh Young dan Leeteuk yg nyengir gak jelas di depan pintunya.
“mau apalagi?” tanya Sarang sinis.
Young mengangkat rantang yg di bawanya. Sarang mendengus.
“kamsahamnida. Tidak usah. Sudah ada makanan di meja. Kalaupun tidak ada, aku masih mampu utk makan diluar.” Kata Sarang.
“jangan begitu dong. Kita kan tetangga, harus saling memberi..” kata Leeteuk.
“kita boleh masuk?” tanya Young.
Sarang memutar bolamatanya. “ne, masuklaaah… aaah..” ucapnya malas.
Young dan Leeteuk duduk di ruang tamu Sarang.
Belum sempat Leeteuk mengucapkan sepatah kata, wajah Kibum nongol di pintu.
“Sarang-ah…” panggil Kibum. Sarang menoleh.
“Bumma? Ada apa kau kemari?” tanya Sarang.
“kenapa bolos? Songsaengnim banyak yg mencarimu. Kau masih marah padaku?” tanya Kibum.
“gwaenchana. Sudah tidak kok. Duduk lah kemari. Ceritakan padaku ttg gadis di laundry kemarin. Cepat kemariii…” sarang menarik Kibum duduk di sampingnya.
“tamumu?” tanya Kibum. Sarang menoleh ke arah Leeteuk dan Young.
“ah, biarkan saja. Ayo cepat lekas cerita…” paksa Sarang.
Kibum mengangkat bahu. Lalu memulai cerita. Sarang mendengarkan dengan seksama. Baru sampai tengah cerita, Leeteuk berdiri.
“Aku tau aku dan adekku salah kemaren. Tapi bukan seperti ini balasannya. Dan aku baru tau, kalau ternyata manusia seperti kamu itu ada di dunia ini. satu lagi, aku pastikan rantang ini akan jadi rantang terakhir! PERMISI~! Ayo Young,” Leeteuk tiba-tiba marah dan meninggalkan apartemen Sarang.
Sarang memandang Leeteuk yg berlalu. Kibum menoleh.
“kau yakin temenmu itu gak apa-apa? Keliatannya marah banget..” tanya Kibum.
Sarang mengerjap, “gak tau. biarin aja ah..”
Kibum meneruskan ceritanya. Tapi sebenarnya Sarang sama sekali tidak mendengarkan, karena ia cemas. Takut kalau Leeteuk benar-benar marah padanya.
“eh, uda jam tiga nih. Aku balik ya, mau jemput Hyun Ae. Dah, Sarang…” pamit Kibum. Sarang Cuma nyengir sambil melambaikan tangan.
Sepeninggal Kibum, Sarang mengambil rantang yg sengaja di tinggal Leeteuk dan Young di meja tamu. Sarang membukanya perlahan.
Rantang paling atas berisi kue kue kering. Sarang melihat kue-kue itu lebih seksama, ternyata di setiap bagian atas kue itu ada alfabet yg bila diurut jadi M, I, A, N, H, A, M, N, I, D, A. Sarang terkesiap.
Rantang tengah berisi lauk-pauk. Lauk pauk itu ditata sedemikian rupa hingga membentuk wajah tersenyum. Rantang terakhir berisi nasi. Dan nasinya berbentuk hati.
Sarang terkesiap lagi.
Ternyata Leeteuk dan Young kemari sebenarnya mau minta maaf. Malahan minta maafnya sampai dibawa ke makanan. Sarang merasa bersalah.
—-
[ flashback ]
Semenjak Tuan dan Nyonya Choi meninggal, perusahaan bisnis keluarga Choi menjadi sedikit di luar kontrol. Untung saja ada Lee Soo Man yg bisa diandalkan.
Tapi Tuan Muda Choi Siwon menjadi lebih sering menyendiri. Sekolah ia telantarkan, sehingga ia terpaksa harus ikut homeschooling.
Tuan Muda Choi Siwon frustasi saat setiap hari ia mendapat tekanan dari teror-teror yg terus menimpanya. Mulai dari surat kaleng, telepon misterius, sampai mimpi buruk yg terus menghantuinya.
“aku akan menghancurkan seluruh keluargamu.. setelah membunuh kedua orangtuamu, aku akan segera membunuh kedua adikmu.. aku ingin kau menderita.. aku ingin kau menderita.. aku ingin kau menderita…~~!!” begitulah kalimat yg menyiksa batin Tuan Muda Choi Siwon.
[ flashback end ]
Young mendekap buku diary hijau-putih. Pertama-tama Young memastikan pintu kamarnya terkunci agar kakaknya tidak muncul tiba-tiba.
..januari..
ini buku diari pertama yg aku punya. Buku diari dg sampul warna ksukaanku dan ksukaan gadis yg paling aku cintai.
Ini buku diari kami.. buku diari milik Teuk-Jae.
Buku diari saksi bisu cinta kami…
*to be continued..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar