Rabu, 20 Oktober 2010

Sitta karina



sitta karina semua mengenalnya sebagai penulis kreatif. perempuan penyuka pantai ini dalam waktu dekat segera akan melaunch bukunya yang ke-17 : delapan peri. rencananya ia akan mengundang para pecinta buku. delapan peri kini sudah bisa dipesan via terrantbooks[at]yahoo[dot]com
nyaris semua novelnya bertema remaja: pesan dari bintang, lukisan hujan, imaji terindah dan lainnya. sebelum total memutuskan menjadi penulis profesional, ia pernah menjadi konsultan di banyak perusahaan pertambangan. namun ia tak bisa menolak panggilan hatinya untuk terus menulis.
kesukaanya pada dunia menulis, terinspirasi dari kakeknya, mara karma. perempuan yang suka berenang ini menceritakan, sejak usia dua tahun ia selalu melihat akinya ( aki=sebutan untuk eyang kakung) menulis dan melukis. “jadi awalnya terbiasa dengan kondisi spt itu”.
namun ketika ia menyampaikan keinginannya untuk menjadi penulis kakeknya melarang. “kamu jangan jadi seperti saya. jadi seniman itu pendapatannya tidak tetap. sitta kecil waktu itu baru berusia empat tahun. karena dia suka sekali nonton film-film robot, kakeknya menyarankan untuk jadi insinyur saja.
keinginan kakeknya itu tercapai, perempuan bernama panjang sitta karina satyakarma ini pernah menjadi konsultan di perusahaan pertambangan. tak lama ia hengkang, ia mengaku terlalu banyak conflict of interest. ia tak menjelaskan lebih jauh.
ia merasa menulis baginya itu “fun”. selain itu ia senang bercerita, bermain kata, dan menyampaikan gagasannya. “itu asyiknya. dan tantangan serunya saat ini adalah dengan lahirnya twitter. bayangkan, menulis, menggagas hanya dalam 140 karakter!”
kebanyakan novelnya membahas masalah remaja. menurutnya masa-masa remaja itu masa yang sulit. dengan bercerita, saya ingin berbagi pengalaman. perempuan yang ngefans dengan @deelestari @PrimaRus @novariyanti @ikanatassa, wendy mass, melina marchetta, melissa de la cruz, dan sarah dessen ini mengaku masa remajanya cukup heboh. “tapi gak sampe ‘rusak’ kok. saat itu, saya masih tau batas”, terangnya.
ia mengakui sebagai orang yang perfeksionis. ia ia menginginkan antara akademis dan pergaulan seimbang. namun karena itu, ia merasa hal sering kali jatuhnya ngoyo. masa-masa itu ia suka clubbing. “tidak suka attach dengan satu cowok aja, tapi saya kompak sekali dengan para sahabat segeng. itu saya lakukan karena punya moto ‘work hard, play hard’, katanya.
melaui perbincangan via instant messanger, ia menceritakan masa hebohnya tersebut.
“saya menyadari di masa yang seru, kompleks & ‘gak mikir panjang’ itu banyak teman saya yang terperosok ke jurang dan tidak kembali :( ketika teman-teman asal seruduk, saya ngerem mendadak. keinget ayah, ibu, dan bagaimana kecewanya mereka nanti. nah karena melihat kenyataan itu, saya sadar, mau terus ugal-ugalan atau berubah. lalu saya ingat.. saya ingin mencoba jadi konsultan, saya ingin karya saya sekali saja dipajang di rak toko buku!
kadang ia menjawab cukup lama pertanyaan, ternyata ia mengetik sambil menyusui anak keduanya, dengan satu jari pula. saat ini kesibukannya selain menulis adalah menjadi ibu rumah tangga full. menyediakan sarapan suami dan bekal, memandikan anak, mengantarnya ke playgroup, memompa asi buat adiknya. ia melanjutkan,
“lalu saya merasa ditampar oleh kata-kata nenek saya, nenek Ade Diran,”good things come to good people. tiap orang memiliki vibrasi yang unik, dan ia akan menarik orang lain ke dekatnya yang memiliki vibrasi yang sama/serupa.” intinya semua ketidakenakan, kebahagiaan semu yang saya rasakan, berasal dari diri saya sendiri. so, either you change or continue suffering.”
“dan semua ada akhirnya. ketika usia makin bertambah ia merasa selalu bertemu (terutama) cowok yang kurang sreg di matanya. apalagi dia sebagai penulis cerita romance. ia mengaku sangat susah mendapatkan mr right, dapatnya selalu mr. right now”, tulisnya diakhiri ikon senyum
menurutnya berubah itu tidak hanya butuh kesadaran tapi juga keberanian. saat itu ia mencoba melihat dengan mata hati, pikiran terbuka & jernih. intinya “membaca”, iqra. dalam novel-novelnya sitta bercerita mengenai remaja dari segala aspek. “tidak hanya tentang anak gaul, karena toh gaul itu bukan segalanya”.
menurutnya penulis itu seperti fotografer, mesti berlatih ‘capturing the moment’. lihat sekeliling kita: di rumah, di jalanan, mall juga perhatikan kejadian & ekspersi org. apa yang sedang terjadi di sana? bahkan juga di twitter, apa yang sedang hangat atau plot dalam videoklip.
selain menulis novel, saat ini perempuan yang mempunyai di twitter @sittakarina ini juga menulis puisi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar