Jumat, 22 Oktober 2010

Part one !

for every name {food, place, and another information about Seoul} in this Fanfict are really exist.
**
APGUJEONG-DONG
Seorang gadis mengeluh pendek. Ia melepas dua kuncirnya, dan kacamatanya. Mata hitam pekat jernih dan rambut hitam lurus miliknya pun terlihat sempurna. Gadis itu mengambil kotak mungil di sakunya, mengeluarkan soft lens berwarna ungu dan memakainya.
Setelah mengapitkan bandana di kepalanya, gadis itu melambaikan tangan. Seorang pelayan datang sambil membawa buku menu.
“ada yang bisa saya bantu, Agasshi?” tanya pelayan itu orang asing dan beraksen Perancis. “Cheese Soufflé , Strawberry Rhubarb, and Cinnamon Tea. One each menus. Thanks,” jawab gadis itu dengan bahasa Inggris yang fasih.
“Kenapa terus bersembunyi dari identitas asli sih? Aku lebih suka dengan Lee Sarang yang selalu mengurai rambut dan memakai soft lens,” ucap Jinsoo tiba-tiba datang dan duduk di hadapan gadis itu.
Gadis bernama Lee Sarang itu sedikit kaget, lalu tersenyum kecil, “eotteokhae? Pria yang kucintai menyukai tipe gadis seperti itu..”
“Sarang-ah, masih banyak pria yang lebih baik dari dia. Kenapa kau harus jadi orang lain sih?” tanya Jinsoo.
“molla. Aku hanya ingin menjadi gadis yang dicintainya,” jawab Sarang lirih.
Jinsoo memandang wajah sahabatnya itu, “hajiman.. menjadi orang lain itu menyakitkan, Sarang. lagi pula, apa pria itu menyadarimu? Tidak kan? lalu apa efeknya kau berpura-pura menjadi gadis seperti itu?”
“Jinsoo-ah, gomawo. Tapi ini keputusanku, geumanhae. Na gwaenchanha..” ucap Sarang menenangkan sahabatnya.
Seorang pelayan masuk dan menghidangkan pesananan Sarang, gadis itu mengangsurkan Strawberry Rhubarb ke hadapan Jinsoo.
Jinsoo melongo. Sarang tersenyum, “cobalah. Jinjja masitta..”
“aku.. tidak seberapa suka makanan seperti ini..” tolak Jinsoo halus.
Sarang memberikan sendok kecil, “ini dessert, dengan krim dan buah stoberi kesukaanmu. Kau pasti suka,”
Jinsoo pun menyendok Strawberry Rhubarb-nya. “Sarang-ah..”
Sarang mendongak, “ne?”
“kau bukan orang Korea asli kan?” tanya Jinsoo.
Sarang mengangkat alis, “bagaimana kau bisa tahu? Apa aku sudah pernah cerita?”
Jinsoo menggeleng, “lidah orang Korea asli tidak akan familiar dengan masakan seperti ini. tapi rasanya kau sangat menyukainya..”
“ye, aku memang ada darah Korea-Amerika. Apalagi dulu waktu aku pernah empat tahun tinggal di Massachusetts dan sekolah di Greenfield Middle High School. Itu sekolah bagus di Amerika. hehe,” Sarang nyengir.
“pantas..” ucap Jinsoo singkat.
“apanya?”
“bahasa asingmu lancar sekali. Dan lagi, kau sering makan di restoran seperti ini, jarang kulihat kau makan di restoran makanan Korea,” ucap Jinsoo, sepertinya mulai menyukai Strawberry Rhubarb-nya.
“aku hanya.. belum terbiasa. Tapi aku sering makan fusion food kok,” elak Sarang.
“fusion food?” tanya Jinsoo.
Sarang mengangguk, “itu perpaduan antara makanan Korea dengan makanan luar. Kemarin aku makan siang di Xian, aku makan Bulgogi Pizza.”
“Xian? Dimana itu?” tanya Jinsoo.
“Dekat Fitness Club, di Apgujeong-gu. Kapan-kapan kau harus ke sana. Ada kimchi burger dan cheese gimbab juga loh~” usul Sarang.
“Sarang-ah, berhentilah jadi gadis nerd. Aku suka kau yang seperti ini, soft lens, rambut panjang, pakaian khas dirimu, makanan kesukaanmu, gaya bicaramu, dan semuanya yang aku lihat saat ini.. “ pinta Jinsoo.
Sarang diam. Jinsoo melanjutkan ucapannya.
“aku tidak suka Lee Sarang yang selalu menguncir dua rambutnya, memakai kacamata, berpakaian aneh, berbicara aneh, dan Lee Sarang yang aneh. Jadilah Lee Sarang yang aku suka,” pinta Jinsoo.
Sarang tersenyum, meletakkan kembali gelas Cinnamon Tea setelah meneguknya.
“mianhae Jinsoo-ah. Bukannya aku tidak mau jadi teman yang kau suka. Tapi aku sedang berusaha meluluhkan hatinya. Aku harus jadi gadis nerd yang berkuncir dua, berkacamata dan aneh..”
Jinsoo mendesah, “kenapa kau harus mencintai pria itu sih? sampai kapan kau terus mempertahankan perasaan sepihak ini? dia tidak mencintaimu Sarang~”
Sarang tertegun.
Ia meninggalkan beberapa lembar uang won di meja, meNarik jaketnya, “aku hanya ingin mempercayai apa yang aku yakini. Annyeong~”
Jinsoo terdiam. Sarang meninggalkannya, Jinsoo memandang sosok gadis itu dari jendela kaca L’imitie. Jinsoo menemukan setitik air mata di kelopak mata gadis itu.
DOSAN PARK
Sarang mendongakkan wajahnya, melepas soft lens agar matanya tidak perih karena air mata. Setelah dua buah lensa berwarna keunguan itu lepas dari matanya, gadis itu memasukkan soft lens itu ke dalam kotak mungil di sakunya.
“Annyeong~” sapa seseorang di samping Sarang. Sarang terlonjak kaget.
“OMOMOO~ ah.. kau mengagetkanku saja Gege!” omel Sarang begitu tahu siapa yang menyapanya tiba-tiba.
“Nǐ wèishéme kū?” tanya Hangeng fasih.
(*kenapa menangis)
“YA~ jangan berbicara bahasa china. Aku akan membalasmu dengan bahasa inggris, Gege..” protes Sarang.
“kau habis menangis ya?” tanya Hangeng.
“ih, sok tau..” cibir Sarang.
“kalau tidak, kenapa melepas soft lens mu?” pancing Hangeng.
Sarang cemberut, “kenapa kau selalu tahu?”
Hangeng mengacak rambut Sarang, “Yīnwèi wǒ ài nǐ mèimei..”
(*karena aku mencintaimu)
Kali ini Sarang tahu betul artinya. “dasi malhajima..”
(* jangan katakan lagi)
“wae? Aku memang mencintaimu, kenapa aku tidak boleh mengatakannya?” tanya Hangeng.
“because I dont wanna hurt you, Gege..” jawab Sarang. kali ini Hangeng mengetuk kepala Sarang pelan.
“jangan gunakan bahasa Inggris! Bahasa Korea saja aku sudah kebingungan~” omel Hangeng yang tidak mengerti.
Sarang tersenyum getir.
“menangis karena Leeteuk lagi?” tebak Hangeng. Sarang menoleh, menatap pria keturunan Tionghoa yang tengah menatapnya cemas.
Sarang menggeleng, “Méiyǒu..”
(*tidak)
Hangeng tersenyum, “syukurlah. Kupikir kau menangis karena dia lagi..”
“mau kutemani minum?” tawar Hangeng.
Sarang mengangkat alis, “mwo?”
“mau kutemani minum tidak? kalau kau sedang sedih, kau akan ke Once In A Blue Moon Jazz bar kan?”
Sarang terbelalak, “bagaimana kau tau?”
Baru saja Hangeng akan menjawab, sudah di sela oleh Sarang, “jangan katakan karena kau mencintaiku..”
Hangeng tersenyum, “ne, neol saranghanikka..”
(*karena aku mencintaimu)
Sarang mendesis. “Gege, bùyào tí tā le..”
(*jangan katakan hal itu lagi)
Hangeng meNarik nafas panjang, “kenapa aku tidak boleh mengatakannya?” ia mengulang pertanyaan yang sama.
Sarang menggeleng. “aku bukan gadis yang sempurna untukmu, Gege..”
“aku tidak butuh gadis yang sempurna. Aku hanya menganggap bahwa kau adalah gadis yang tepat,” ralat Hangeng.
Sarang tersenyum, menepuk pundak Hangeng, “gomawo~ kaja~”
“eodiseo?” tanya Hangeng.
“kita ke ZOOM~~” Sarang meNarik pergelangan tangan Hangeng.
“Cocktail Bar?” tanya Hangeng.
“ne, Once In Blue Moon Jazz Bar agak jauh, kita tidak bisa berkaraoke. Mau temani aku tidak?” Sarang menanyakan kesanggupan Hangeng.
“kau tidak akan mabuk kan?” tanya Hangeng.
“Cocktail tidak akan membuatku mabuk. Aku ini peminum handal, Gege. Hanya Liquor kadar tinggi yang bisa membuatku mabuk,” jawab Sarang.
ZOOM Cocktail Bar
Zoom tampak cukup ramai, tetapi tidak penuh. Suara gemuruh lagu membuat Sarang yang baru saja masuk langsung menggoyangkan pinggulnya. Dalam hitungan detik, gadis itu langsung menguasai suasana. Rambut panjangnya yang terurai tampak mengkilat tertempa cahaya lampu berkedap-kedip.
“Gege, kenapa diam saja? ayo ikut aku meNari~~” ajak Sarang.
“ne? meNari?” Hangeng mengerjap.
“AYOOOO~~” Sarang meNarik Hangeng ke tengah-tengah para pengunjung.
Di luar dugaan Sarang, Hangeng justru meNari sangat lincah. Tubuhnya yang lentur, dan gerakan memutarnya. Sarang hanya bisa melongo. Semua gadis yang ada di sekeliling langsung meneriaki Hangeng untuk terus meNari.
Sarang tertawa kecil, lalu menepi dan memesan cocktail.
“kenapa berhenti?” tanya Hangeng, tiba-tiba duduk di samping Sarang. Sarang menggeleng.
“kau tampak menikmatinya, aku tidak ingin menganggu..” jawabnya, meneguk gelas pertama cocktailnya.
“kenapa kau tidak meNari juga?” tanya Hangeng.
Sarang mengangkat alis. Kemudian Hangeng melanjutkan ucapannya, “aku sudah tahu kehidupanmu sehari-hari di luar sekolah, Sarang. tidak perlu berpura-pura dihadapanku seperti kau berpura-pura di hadapan Leeteuk..”
“apa saja yang kau ketahui?” tantang Sarang, ia tidak yakin Hangeng benar-benar tahu soal dirinya.
“kau tinggal di Hanyang Apartement Complex, dekat Galleria Departement Store tempat orang tuamu bekerja. Berangkat sekolah dengan menggunakan seragam biasa, tapi sampai di Cheongdam Station kau akan memakai jaket tebalmu, menguncir dua rambutmu, dan memasang kacamata..” ujar Hangeng.
“sepulang sekolah, mampir ke suatu tempat untuk makan atau sekedar nongkrong, dan melepas jaket, kuncir dan memasang kembali soft lensmu. Kemudian jalan-jalan ke Dosan Park , ke COEX Mall untuk belanja atau ke Yeongdongdae Road untuk sekedar mampir ke Seorim gallery favoritmu kan? setelah capek, kau pasti akan mampir ke bar-bar. Selain Once In A Blue Moon Jazz bar, Zoom, kau juga sering ke Razzle Dazzle kan?” lanjut Hangeng.
Sarang diam.
“kau anak tunggal. Orang tuamu bekerja sampai malam, jadi kau pulang sebelum mereka pulang. seperti sekarang. Semua yang ku katakan itu, betul kan?” tebak Hangeng.
“kau.. mengikutiku yaaaaaaa?” Sarang tertawa sambil menoyor kepala Hangeng.
“aku tidak bercanda..” ucap Hangeng geram.
“Arayo..” sahut Sarang.
“dan aku mencintaimu apa adanya, Sarang-ah.”
Sarang menggeleng, “anieyo. Kau tidak boleh mencintai gadis sepertiku. Arajyo? Hangeng Gege, should be have a girl who have better behavior than me. Its mean, the RIGHT GIRL IS NOT ME..”
“i dont care. i want no body but you..” ucap Hangeng dalam bahasa inggris.
Sarang kaget, “kau bisa bahasa Inggris, Gege?”
“tidak juga. Itu kan lagu 2NE1 dan Wondergirl,” jawab Hangeng malu-malu.
Sarang tertawa keras, “Hahahahahahhahahahahaha.. Gege, jinjja utgyeooo~~”
—- THE NEXT DAY —–
KYUNGGI HIGH SCHOOL
Nari dan Jinsoo duduk di kantin sambil mengobrol santai, membuka salah satu buku pelajaran sambil membahas satu soal sulit yang tadi membuat mereka meraung-raung saat ulangan. Sarang tidak satu kelas dengan mereka, jadi meskipun mereka dekat tetap saja lebih dekat Nari-Jinsoo.
“Sarang-ah..” panggil Nari.
“ne?” Sarang menoleh, lalu mengambil kaleng soda yang ia beli.
“aku kemarin ke Apartemenmu sekitar pukul 8 malam. Kau belum pulang?” tanya Nari.
“dalam rangka apa kau ke rumah ku?” tanya Sarang.
Nari cengar-cengir, “sebenarnya aku mau pinjam buku. Tapi berhubung kau tidak ada, akhirnya aku ke tempat Shindong,” ucapnya.
“Apartemen Shindong kan jauh. Ah~ itu hanya alasanmu kan?” tebak Sarang sambil tertawa.
“Nari-ah, jinjja tahaengida..” ucap Jinsoo.
“wae?” tanya Sarang.
“Shindong Oppa kan sangat kereeeen~~ hiks..” Jinsoo memasang muka seolah-olah sedang menangis.
“YA! aku dan dia tidak pacaran!” elak Nari.
Sarang tertawa, “Jinsoo-ah, kenapa tidak cari pacar saja? eh, kau kenal Hangeng Gege? Sunbae kita yang pindahan dari China.. kenal tidak?”
Nari dan Jinsoo mengerutkan kening, “iya. Kenapa dengan dia?”
“Jinsoo dengan dia sajaaaa~~” usul Sarang.
Nari menoyor kepala Sarang, “kau kira kami tidak tahu kalau dia naksir kau?”
Sarang nyengir, “dia baik loh, Soo. Kau dengan dia saja. nanti aku akan bilang padanya. Eotte?”
Jinsoo mendengus, “Shirheo. Kalau dia baik, kenapa bukan kau saja. dia kan cinta padamu. Dari pada kau terus mengejar ketua osis itu~” Jinsoo menunjuk seorang namja yang turun dari tangga.
Sarang menoleh, mengambil soda dan sedotan, lalu meninggalkan Nari dan Jinsoo, “aku pergi yaa.. kalkkeee~~”
Nari dan Jinsoo mendesah, “kapan sih, gadis itu berhenti jadi gadis nerd hanya untuk dapat perhatian ketua Osis yang super dingin itu?”
Nari menggeleng pasrah, “mollaseo. Padahal Hangeng Gege sudah sangat baik untuknya.. kenapa tidak dengan pria itu saja?”
“mungkin Sarang sudah terlalu cinta pada Leeteuk ya?” tanya Jinsoo.
Rrrt.. Rrrrt..
Ponsel Nari berbunyi. Tulisan –SHINDONG—membuat Nari bersemangat. Jinsoo sudah tau apa yang terjadi, gadis itu hanya tersenyum kecil.
**
Leeteuk duduk di salah satu kursi besi di halaman sekolah. Sarang duduk di sampingnya. lalu menyodorkan sekaleng soda yang ia bawa.
“kau haus tidak Oppa? Aku membelikanmu soda, kau mau minum?” tanya Sarang penuh perhatian.
Leeteuk tidak mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang ia bawa, “aku bukan Oppamu.”
“Sunbae, kau sedang baca apa?” tanya Sarang celingukan.
Leeteuk diam. tidak menjawab.
“Sunbae, OSIS akan ada acara apa?” tanya Sarang lagi. Tidak ada respon.
“Sunbae, kudengar kau dapat penghargaan dari Pemerintah Gangnam-gu ya?” tanya Sarang lagi. Hening.
“Sunbae, aku tahu kenapa kau selalu dapat peringkat satu. dan, kenapa permainan pianomu selalu meNarik perhatian..” ujar Sarang. no any respons.
“Sunbae.. kau tahu tidak. aku sukaaaaaaaaaaaaaa sekali dengan lesung pipi tunggalmu..” lanjut Sarang.
Lagi-lagi Leeteuk tidak menjawab, malah memasang earphone dan duduk bersandar. Seolah-olah tidak ada seorang gadis yang meminta perhatian yang duduk di sampingnya.
Sarang mendesah.
“Masih tidak menghiraukan aku seperti kemarin ya? Gwaenchanha.. aku tetap akan melakukan hal ini sampai dia menghiraukan aku,” ucap Sarang pada dirinya sendiri.
Ia meletakkan kaleng soda itu di samping Leeteuk, kemudian membungkukkan badan dan meninggalkan Leeteuk.
Leeteuk melepas earphonenya. Yang ternyata tidak terhubung pada apapun, yang artinya dia tidak mendengarkan apa-apa.
“Sssh.. merepotkan.” Desah Leeteuk.
Sarang berdiri di balik pohon, jauh dari tempat Leeteuk duduk. Ia melepas kacamatanya sejenak, ia merasa sedikit pusing. Tidak biasanya Sarang pusing, padahal semalam hanya minum segelas cocktail.
“wae?” tanya seseorang tiba-tiba datang.
“OMMOMMO~~” Sarang kaget.
Melihat orang dihadapannya, Sarang mendengus, “membuatku kaget sekali lagi, akan kulempar kau pulang ke China~”
Hangeng tertawa, “kenapa tidak seketus itu pada Leeteuk saat dia mengacuhkanmu?”
Sarang memutar bola matanya, meninggalkan Hangeng. Hangeng buru-buru mengejar Sarang, “Sarang-ah..jamkkanmanyo~”
Gadis yang dipanggil hanya menoleh sekilas, “aku tidak suka kau membahasnya.”
“Sarang-ah, aku hanya tidak suka kau diperlakukan seperti itu..” elak Hangeng.
Sarang meNarik nafas, “kenapa sih? kenapa kamu yang marah? Aku bisa mengerti kenapa Leeteuk memperlakukanku seperti itu.”
“tapi kau bukan gadis yang seharusnya dapat perlakuan sedingin itu,” tambah Hangeng.
“lalu apa yang seharusnya kulakukan? Apa aku harus berhenti menyukainya dan mulai menyukaimu?” tanya Sarang, emosinya mulai meluap.
Hangeng menggeleng, “bukan. Ini tidak ada hubungannya dengan aku..”
“lalu apa? kau mau bilang apa lagi?” tanya Sarang.
“Sarang-ah.. semua orang lebih suka dengan Lee Sarang yang periang dan menyukai dirinya sendiri. bukan Lee Sarang dengan topeng~” ucap Hangeng.
“KAU TIDAK TAU apa yang kurasakan, Gege!!” marah Sarang.
“aku tau!” elak Hangeng.
“apa yang kau tahu?” tantang Sarang.
Hangeng menghela nafas, “Sarang.. aku hanya tidak ingin kau terluka..”
“SUDAHLAH~ jangan bersikap seolah-olah kau yang paling tau tentang aku, Gege!” Sarang menapakkan kakinya kesal, meninggalkan Hangeng yang memandang punggungg gadis itu yang perlahan menghilang.


kelanjutan kisahnya nanti ada lagi !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar